 Sebagai karyawan, kita biasanya udah punya tugas yang spesifik. Semakin besar perusahaan tempat kerja kita, semakin speifik pembagian tugasnya. Seorang staff HRD bagian recruitment, misalnya; setiap hari cuma ngurusin proses seleksi karyawan baru. Seorang staff Finance bagian pembayaran, misalnya; cuma berkutat dengan pembayaran bon-bon tagihan yang masuk. Semua orang dalam sebuah perusahaan besar bekerja secara terkotak-kotak dengan persepsi yang sangat sempit terhadap bisnis perusahaannya.
Trus, gimana kaitannya dengan berwiraswasta?
Saat lo mulai sebuah kegiatan wiraswasta, lo harus mengurus segalanya sendirian. Lo harus pikirin mulai dari pembelian bahan baku, penghitungan komponen biaya dan penentuan harga jual, proses produksi, promosi, penjualan, dan delivery. Lo harus mengontrol dan mengevaluasi arus kas, sambil bernegosiasi dengan para vendor dan para pelanggan.
Dengan kata lain, sebagai wiraswastawan, lo belajar manajemen secara komprehensif, keseluruhan. Nggak lagi terkotak-kotak seperti yang dialami karyawan biasa. Kesempatan ini adalah sekolah manajemen yang bagus banget, karena kita berlatih manajemen secara langsung.
Orang-orang yang udah merasakan manisnya berwiraswasta biasanya akan langsung berpikir untuk total terjun sebagai wiraswastawan, dan berhenti jadi karyawan. Tapi kalopun enggak, pengalaman yang lo dapet dari 'sekolah manajemen wiraswasta' bisa jadi bekal untuk mengincar posisi yang lebih tinggi - sebagai karyawan. Tentunya dengan bayaran yang lebih gede pula.
|