 Menurut teori psikologi behavioristik, perilaku bisa dibentuk dengan pemberian reward alias imbalan, atau kalo mau diartikan ganjaran juga bisa sih.
Contoh paling klasik adalah cara yang dilakukan para pelatih binatang. Coba perhatiin para pawang lumba-lumba di Ancol: setiap kali lumba-lumbanya berhasil mempertontonkan trik dengan sukses, mereka akan dapat 'hadiah' ikan.
Ok, trus apa hubungannya dengan manfaat berwiraswasta bagi para karyawan?
Buat para karyawan, reward mereka adalah gaji yang mereka terima setiap bulan. Umumnya, gaji bersifat tetap. Dari bulan ke bulan, jumlahnya ya segitu-segitu aja. Terlepas dari bagaimanapun ulah si karyawan pada bulan tersebut, di akhir bulan dia akan menerima reward yang udah bisa ditebak jumlahnya.
Dari sudut pandang psikologi behavioristik, gaji yang konstan ini adalah reward yang sangat lemah untuk membentuk perilaku positif. Coba aja bayangin: orang yang kerjanya plonga-plongo, baca koran, atau ketiduran di meja, akan dapat reward sama dengan orang yang rajin dan disiplin. So, buat apa kerja rajin?
Ok, gaji memang cenderung konstan. Tapi gimana dengan iming-iming kenaikan gaji, yang besarannya tergantung pada penilaian hasil kerja karyawan? Bukankah ini juga akan memotivasi karyawan untuk bekerja lebih rajin, supaya nanti di akhir tahun bisa dapat nilai bagus dari atasan - dan naik gaji lebih besar?
Teorinya sih memang gitu. Tapi pada kenyataannya, penilaian kerja nggak selamanya berjalan obyektif. Banyak kasus "SKS" (Sistem Kebut Semalam) di mana karyawan memompa performa kerjanya hanya di akhir tahun berjalan, supaya dapat nilai baik dari atasan. Idealnya sih atasan yang baik dan benar akan menilai kinerja sepanjang tahun, bukan cuma kinerja akhir tahun aja. Tapi atasan juga manusia, ingatannya terbatas, dan bisa aja yang dia nilai hanya kinerja di akhir tahun (yang sudah direkayasa oleh bawahannya sehingga nampak ekstra bagus).
Dengan kata lain, seorang karyawan bisa aja cuma ploga-plongo, baca koran, main gaple sambil ngopi sepanjang tahun, DAN tetap naik gaji, selama dia pintar memanipulasi performa kerjanya menjelang waktu penilaian. Sebaliknya, seorang karyawan yang udah kerja rajin, banting tulang sepanjang tahun, bisa aja dapat nilai yang lebih rendah dari rekan-rekannya, hanya karena dia kurang pandai 'memanipulasi' atasa. Semua ini, sama sekali bukan 'sekolah' yang baik buat pengembangan pribadi yang efektif.
Sekarang bandingkan dengan kehidupan seorang wiraswastawan.
Dalam dunia wiraswasta, apa yang kita peroleh adalah cerminan dari seberapa besar usaha kita. Kalo jualan sambil males dan ogah-ogahan, nggak usah heran kalo pendapatannya sedikit. Mau punya pendapatan gede? Ya harus giat dan pantang menyerah. Mau punya pelanggan setia? Ya harus ngasih service yang memuaskan mereka. Males ketawa dan jualan sambil bete? Jangan heran kalo para pelanggan kabur. Reward yang diterima, sepadan dengan besarnya usaha yang dikeluarkan.
Berwiraswasta adalah "sekolah" yang mengajarkan bahwa semakin keras kita bekerja, semakin besar penghargaan yang akan kita terima.
|