 Awal tahun 2007, Ida masih ngajar di sebuah pre-school di daerah Muara Karang. Hampir setiap hari, dia berangkat ke tempat kerjanya naik KRL dari stasiun Cikini. Di sana ada seorang tukang kue yang keliatannya sih cukup laris. Tanpa toko / kios permanen, cuma dengan lemari kaca tempat memajang dagangannya.
"Hmmm.. lucu juga kali ya, kalo bisa nitip jualan risol barang 10 - 15 potong per hari ke tukang kue ini," pikir Ida. Maka dia kenalan sama sang ibu penjual kue, sambil nanya 'aturan main' yang berlaku kalo mau titip barang jualan.
Ibu penjual kue menyambut positif, tapi mengajukan syarat yang lumayan merepotkan: harga kue yang dititipkan harus sama dengan kue-kue dagangannya yang lain, plus mematok persentase margin sekian persen dari harga jual.
Ida dan gue mulai main hitung-hitungan untuk nyari harga produksi dan harga jual yang pas hingga akhirnya sampai pada kesimpulan...
mending nggak usah nitip aja deh.
Pertimbangannya sederhana aja: ini bukan posisi yang "win-win" karena di satu sisi si penjual kue bisa dibilang nggak menanggung resiko apapun (pembayaran di belakang hanya berdasarkan jumlah kue yang laku aja), margin 100% dijamin masuk ke tangannya tanpa resiko biaya apapun. Sedangkan kami sebagai produsen kue harus membayar ongkos produksi di depan, dan resiko barang nggak terjual. Plus margin yang terpaksa harus ditekan untuk mengikuti range harga.
Akhirnya kami memutuskan untuk nyoba jualan sendiri, dan... Alhamdulillah berhasil mencapai omzet yang jauh lebih gede dari cita-cita awal Ida yang cuma "10-15 potong per hari..!" Hikmahnya, untung juga si ibu penjual kue waktu itu kurang kooperatif... jadinya sekarang bisa bikin kotakkue.com deh.
Jadi, enaknya titip atau jual sendiri nih?
Berdasarkan pengalaman tadi, maka gue bisa menyimpulkan beberapa hal berkaitan kesepakatan jual makanan dengan cara 'nitip'.
- Kalo pemilik toko menetapkan harga maksimal, boleh aja... asal lo juga boleh tentuin jumlah minimal per hari dan dibayar putus. Artinya, lo hanya berurusan dengan si pemilik toko, soal resiko dagangan sisa / nggak laku di akhir hari, ditanggung pemilik toko. Biasanya sih jarang ada toko yang setuju dengan perjanjian model gini, jadi lebih baik lo coba alternatif berikutnya yaitu:
- Kita yang tentuin harga, pemilik toko terserah mau ambil margin berapa untuk dijual ke pembeli, sedangkan resiko barang nggak laku ditanggung elo (di akhir hari dagangan yang nggak laku lo ambil lagi). Perjanjian gini sebenernya paling lazim, dan buat si pemilik toko nggak ada ruginya sama sekali. Toh kalo nggak laku dia tinggal balikin ke produsen. Tapi, kalo pemilik toko masih nggak setuju juga dengan setting yang ini, maka...
- ...tinggalin aja. Mending cari toko lain yang bisa dititipin, atau jualan sendiri sekalian.
Intinya, perjanjian nitip harus memberikan elo nilai tambah di margin atau volume. Boleh deh marginnya tipis, tapi volumenya gede. Atau volume boleh dikit, tapi marginnya gede. Kalo dua-duanya enggak dapet, ngapain nitip? Jual sendiri aja!
|